Merawat Bunyi Ale Tunjang: Saat Layar Tancap Aceh Documentary dan KKN 45 Unimal Hipnotis Warga

LHOKSEUMAWE – Lapangan bulu tangkis Gampong Blang Riek mendadak riuh dan hangat pada Selasa malam (24/8/2026). Kolaborasi ciamik antara mahasiswa KKN Kelompok 45 Universitas Malikussaleh (Unimal) dan Aceh Documentary sukses menyulap sudut desa tersebut menjadi bioskop terbuka bertajuk Gampong Film. Pemutaran film dokumenter kebudayaan dan kesenian Aceh ini berhasil menyedot perhatian warga, mulai dari tetua desa, perangkat gampong, hingga deretan anak muda yang tampak antusias menyaksikan warisan leluhur mereka tampil anggun di layar lebar.

Bukan sekadar tontonan visual biasa, acara ini dirancang sebagai pemantik ingatan kolektif sekaligus ruang edukasi audiovisual bagi generasi muda. Salah satu momen emosional yang mencuri perhatian adalah penayangan dokumentasi kesenian langka Ale Tunjang. Nek Waki dan Nek Ali, dua maestro pewaris Ale Tunjang, tak mampu menyembunyikan rasa haru saat melihat tradisi yang mereka rawat puluhan tahun kembali menggema di tengah masyarakat.

Suara dari Balik Layar

Budi (Ketua KKN Kelompok 45 Unimal):

“Kolaborasi ini adalah langkah nyata kami untuk merawat identitas lokal. Kami ingin film dokumenter ini tak cuma berhenti sebagai hiburan, tapi jadi pemantik api semangat anak muda Blang Riek agar bangga pada akar budayanya sendiri.”

Ketua Penyelenggara Gampong Film:

“Film dokumenter adalah media refleksi visual paling efektif untuk merawat ingatan bersama. Lewat sinergi dengan mahasiswa KKN 45, kami membawa pulang karya seni tradisi Aceh ke tempat ia pertama kali tumbuh: di tengah-tengah warga.”

Keuchik Gampong Blang Riek:

“Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya. Inisiatif seperti ini sangat krusial untuk menanamkan rasa bangga dan cinta kebudayaan sejak dini pada generasi penerus gampong.”

Nek Waki & Nek Ali (Pewaris Kesenian Ale Tunjang):

“Kami sangat bersyukur tradisi Ale Tunjang diangkat kembali malam ini. Harapan kami cuma satu: jangan sampai bunyi Ale Tunjang berhenti di generasi kami. Anak-anak muda harus mau belajar dan menjaganya agar tak punah ditelan zaman.”

Malam kebersamaan tersebut ditutup dengan gelak tawa, diskusi hangat antarwarga, dan foto bersama di bawah pendar layar bioskop desa. Sinergi KKN 45 Unimal dan Aceh Documentary ini membuktikan bahwa melestarikan warisan budaya tidak harus kaku dan membosankan—cukup lewat layar kain, cerita yang tepat, dan semangat kebersamaan yang hangat.