Setiap Desa atau daerah memiliki sejarah dan latar belakang tersendiri yang merupakan pencerminan karakter dan ciri khas tertentu dari suatu daerah. Sejarah desa seringkali dituangkan dalam kisah legenda yang diwariskan secara turun-temurun dari orang tua sehingga sulit dibuktikan secara fakta. Tidak jarang cerita tersebut dihubungkan dengan mitos tempat-tempat tertentu yang dianggap sebagai cikal bakal dari nama sebuah tempat didalam desa atau bahkan nama desa itu sendiri.
Begitupun dengan sejarah terjadinya Desa Blang Riek juga memiliki kisah yang merupakan identitas desa sebagaimana kami tuangkan dalam kisah dibawah ini.
Jauh sebelum negara Indonesia ada, wilayah desa Blang Riek pernah menjadi satu kawasan pemukiman yang dihuni oleh perpaduan etnis pendatang hindia kleng dan suku asli gayo riek berkisar dimasa kerajaan Samudera Pasai berkuasa sekitar abad ke 12 masehi. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya ditemukan peninggalan kuburan tua dengan batu berpahat gaya abad ke 12 masehi sebagaimana juga banyak ditemukan diberbagai daerah lain di Aceh Utara, sayangnya belum ada ditemukan batu bertulis aksara tertentu. Ada banyak cerita tentang batu-batu kuburan yang dipahat di kawasan ini karena diperkirakan kawasan Desa Blang Riek pernah menjadi salah satu sentral kerajinan pembuatan batu pahat di kawasan Cot Lha Batee yang sampai kini masih banyak ditemukan kepingan-kepingan batu sisa pahatan. Begitupun penemuan barang-barang antik dari negeri Cina yang di kubur dibawah batu nisan berpahat banyak ditemukan, sayangnya tidak ada penelitian khusus tentang hal ini sementara barang peninggalan sejarah banyak yang telah di ambil oleh para pencari barang antic dan terjadi penghilangan bukti sejarah.
Konon kabarnya kawasan Desa Blang Riek pada masa-masa tersebut pernah ditimpa suatu penyakit “Ta Eun Ija Broek” yang menyebabkan banyak penduduk terutama anak-anak meninggal dunia, sehingga seluruh penduduk terpaksa eksodus ke luar daerah.
Nun jauh setelah fase tersebut tepatnya di Gampong Cempeudak sekarang, yang merupakan tetangga Desa Blang Riek berdiri satu kerajaan kecil dibawah naungan Kerajaan Aceh Darussalam. Menurut cerita dari orang tua-tua bahwa kawasan Desa Blang Riek masuk kedalam wilayah kekuasaan Raja Keujrun T Akai dan Blang Riek dulunya hanyalah tempat masyarakat berkebun dan sawah, tidak ada penduduknya.
Sejarah Blang Riek kembali ada penduduknya berawal dari kisah pada saat putri kesayangan Raja Keujrun T. Akai bernama “Putroe Kuek” diambil paksa oleh seorang Reubat dhalim bernama Abdul Kadir (pendatang dari Turki yang membangun markasnya dikawasan Cot Kareung Dusun Krueng Inong – Desa Blang Ado (red.Sekarang) . Raja Keujrun T. Akai memerintahkan kepada rakyatnya untuk mengambil kembali putrinya tapi sayang tak seorangpun dari warganya yang dapat membawa pulang kembali putrinya. sehingga Raja Keujrun T. Akai pun mengirim utusan guna meminta bantuan pendekar ke Pusat Kerajaan Aceh Darussalam. Maka dikirimkanlah para pendekar sebanyak 7 (tujuh) orang atau kami mengenal mereka dengan nama pahlawan 7 konon katanya pahlawan 7 ini adalah tujuh orang pendekar yang mempunyai ikatan saudara satu sama lainnya.
Setelah pahlawan tujuh datang, Raja Keujrun T. Akai langsung memberikan perintah kepada mereka untuk membebaskan putrinya yang telah di ambil paksa oleh Reubat Abdul Kadir, dengan perjanjian akan memberikan imbalan wilayah kekuasaannya dari Blang Riek sampai kebarat sekehendak mereka. Pahlawan 7 (tujuh) pun berhasil melepaskan putri Raja Keujrun T. Akai, dan membunuh Reubat yang konon katanya memiliki Ilmu Hitam Ilmu kebal (sejenis rawarontek) dan Raja T. Akai pun menepati janjinya yaitu memberikan wilayah nya kepada pahlawan 7 (tujuh). Tapi 2 (dua) orang dari mereka lebih memilih pulang ke tempat asalnya untuk mengembangkan wilayah senriri, dan 5 (lima) orang lainnya menerima wilayah yang telah diberikan. Diantara 5 (lima) bersaudara ini yang menetap di kawasan Blang Riek khususnya dan umumnya di Buloh Blang Ara adalah yang dulunya dikenal bernama JAGLECUT. Keturunan anak dan cucu beliaulah dan beberapa penduduk lainnya yang menjadi cikal bakal penduduk Gampong Blang Riek.
Dengan berkembangnya zaman berbanding lurus dengan pertumbuhan penduduk kawasan Blang Riek juga mengalami hal yang sama, dulunya hanya beberapa orang penduduk saja telah berkembang menjadi salah satu desa yang menjadi pemukiman penduduk dan selebihnya adalah lahan pertanian.
Sejarah Pemerintahan
Dari hasil penelusuran yang dilakukan oleh Tim Perencanaan Gampong, dengan mengacu kepada berbagai sumber yang masih ada di gampong maka sejarah pemerintahan yang masih dapat diingat dimulai pada era sebelum kedatangan Belanda yang mana pada saat itu wilayah Gampong Blang Riek merupakan wilayah otonom dibawah pemerintahan di Cempeudak, sejak kedatangan Belanda diketahui wilayah ini telah dipimpin oleh seorang Peutua bernama Peutua Bendek sampai pada era kemerdekaan republic Indonesia Blang Riek dipimpin oleh Peutua Hasan. Selanjutnya secara berurut dipimpin oleh Geuchik Ansari sejak tahun 1967 – 1989, Geuchik Harun Umar tahun 1989 -1990, kemudian Geuchik Alimuddin tahun 1990 – 1994, lalu Geuchik M. Yunus Arif pada tahun 1994 – 1999, selanjutnya dipimpin Geuchik Sabirullah sejak tahun 1999 – 2014, lalu Geuchik Mansur M. Yusuf dari tahun 2014 – 2019 dan terakhir saat ini dipimpin oleh Geuchik Muhammad Rizal sejak tahun 2020 sampai sekarang.