Bui Van Nong, seorang petani dari Komune Phuong Thinh, Provinsi Dong Thap, Vietnam, berhasil mencuri perhatian dunia pertanian setelah sukses mengubah lahan rawan banjir menjadi pusat ekonomi sirkular modern yang menghasilkan pendapatan lebih dari 25 miliar VND (sekitar Rp15,75 Miliar) setiap tahunnya. Atas prestasinya, ia dianugerahi gelar “Petani Berprestasi di Bidang Produksi dan Bisnis Tingkat Pusat 2024” di Vietnam.
Dua Pilar Bisnis Utama Bapak Nong:
-
- Sektor Pertanian (Sawah Padi 30 Hektar): Menggunakan sistem mekanisasi penuh dengan metode 3 kali tanam per tahun. Menghasilkan total 750 ton beras komersial/tahun. Dengan harga jual rata-rata 6.000 VND/kg (~Rp3.780/kg), sektor padi menyumbang pendapatan sebesar 4,5 miliar VND (~Rp2,83 Miliar/tahun).
- Sektor Perikanan (Budidaya Bibit Ikan Lele 25 Hektar): Menerapkan standar biokeamanan yang sangat ketat (sistem aerasi modern & kolam sedimentasi). Menghasilkan 300–500 ton benih ikan berkualitas tinggi/tahun. Dengan harga jual rata-rata 40.000 VND/kg (~Rp25.200/kg), sektor perikanan menyumbang 20 miliar VND (~Rp12,91 Miliar/tahun).
“Untuk mengembangkan pertanian skala besar, Anda tidak bisa mempertahankan pola pikir skala kecil. Mekanisasi dan keterkaitan pasar adalah kunci mengurangi biaya dan mendongkrak nilai tambah.” — Bui Van Nong

Pelajaran Penting yang Bisa Ditiru di Aceh dan Indonesia:
Karakteristik Provinsi Dong Thap (Delta Mekong) sangat mirip dengan beberapa daerah di Aceh (seperti Aceh Utara, Aceh Timur, atau Aceh Barat) dan wilayah pesisir/lahan basah lainnya di Indonesia yang sering menghadapi tantangan luapan air (banjir). Berikut strategi yang bisa diadaptasi:
-
- Mengubah Bencana Menjadi Peluang (Paradigma Lahan Banjir) Di Indonesia, banjir sering dianggap sebagai akhir dari musim tanam padi. Bapak Nong membuktikan bahwa wilayah rawan banjir justru menjadi berkah jika diintegrasikan dengan budidaya perikanan air tawar (seperti ikan lele/patin) yang membutuhkan suplai air melimpah.
- Penerapan Ekonomi Sirkular (Mina-Padi Modern) Limbah organik atau air sisa kolam lele yang kaya nutrisi (nitrogen dan fosfor) dikelola dan dialirkan ke sawah sekitarnya sebagai pupuk organik alami. Ini memangkas biaya pupuk kimia secara drastis sekaligus menjaga kelestarian lingkungan tanah.
- Mekanisasi Pertanian & Hilirisasi Wilayah Petani lokal di Aceh perlu didorong untuk meninggalkan metode tradisional berskala kecil. Penggunaan teknologi (alat penanam, pemanen, dan pengkondisi air kolam) secara kolektif terbukti menghemat biaya operasional, menstabilkan volume produksi, dan menjaga harga tetap bersaing di pasar.
- Fokus pada Komoditas Pembibitan (Breeding) Bapak Nong memilih berinvestasi di sektor benih/bibit ikan, bukan sekadar ikan konsumsi pembesaran. Pasar pembibitan memiliki perputaran uang yang lebih cepat dengan nilai margin keuntungan per kilogram yang jauh lebih tinggi jika dikelola secara higienis (biosecurity).



