​Tragedi Blang Riek: Ketika Sawah Diurus Tukang Bajak, Bukan Keujruen Blang

BLANG RIEK – Musim turun sawah kembali tiba, tapi dari sekian banyak pemilik lahan, cuma 5 orang yang punya urat peduli buat gotong royong bersihin saluran air. Sisanya? Mungkin lagi sibuk memantau sawah lewat satelit.

​Ini bukan cuma soal warga yang mager, tapi karena Lembaga Adat Keujruen Blang sudah mati suri.

​Bayangkan, dalam 6 tahun kepemimpinan Geuchik Meidzar, posisi Ketua Keujruen sudah 4 kali ganti nakhoda (Zakaria, Ismail, M. Diah, hingga Afriandi yang mundur 6 bulan lalu). Rekor gonta-ganti yang bikin warga krisis kepercayaan dan mengalami degradasi mental: “Ah, ngapain gotong royong, toh nanti bersih sendiri.”

​Mirisnya, Tuha Peut malah memilih silent mode. Efeknya? Urusan persawahan sekarang malah diambil alih oleh tukang bajak sawah—yang jelas-jelas bukan porsinya secara hukum adat.

​Padahal, tugas Keujruen Blang itu krusial, bukan cuma soal gotong royong:

  • Mengurus Meusara (Iuran Padi): Menagih setoran tiap musim panen untuk operasional air irigasi yang bersumber dari Gampong Lhok Jok.
  • Penyelesai Sengketa: Menjadi hakim adat kalau ada gesekan atau pertikaian antarpetani di areal persawahan.

 

​Kondisi tanpa komando ini adalah tamparan keras bagi pepatah kuno:

“Umong meu ateung, ureung meu peutua” (Sawah punya galengan, manusia punya pemimpin).

Sentilan Satire:

Mau sampai kapan urusan perut dan air sawah dibiarkan tanpa nakhoda? Untuk perangkat gampong dan Tuha Peut, yuk bangun! Segera pilih Keujruen Blang yang baru sebelum tukang bajak sawah kita naik pangkat jadi hakim adat dadakan. Dan untuk sekian banyak warga yang absen: sawah Anda butuh air dan iuran meusara yang jelas, bukan cuma doa dari jauh!