Di balik megahnya sejarah 800 tahun Samudera Pasai, terselip ratap sunyi dari Kuta Makmur, Aceh Utara. Kesenian Alee Tunjang—warisan takbenda yang mematri jejak spiritual dan keringat leluhur—kini bertaruh nyawa di ambang kepunahan. Di Gampong Blang Riek, Desa Prie, dan Krueng Manyang, jemari para tetua yang kian senja menjadi benteng terakhir penjaga dentang tradisi ini.
Lahir dari sujud syukur pascapanen di bawah pendar bulan purnama, Alee Tunjang mulanya dimainkan oleh para pemuda yang menghentakkan alu selaras dengan ritme alam. Ketika Islam bersemi di Serambi Mekkah, ia menjelma menjadi media dakwah nan adiluhung. Dari kayu yang direndam lumpur sebulan penuh demi gema sempurna, sang Syeh melantunkan syair tauhid dan kerinduan pada Sang Pencipta—melodi sakral yang dahulu pernah mengangkasa di istana raja.

Kini, setiap hentakannya di panggung budaya bukan lagi sekadar hiburan, melainkan jeritan sunyi penjaga jati diri. Ia terdengar bagai detak jantung seorang tua yang berjuang bertahan hidup di tengah zaman yang kian asing.

Menyaksikan perjuangan sunyi ini, Camat Kuta Makmur, Hanifza Putra, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih tak terhingga kepada para tokoh masyarakat. Dedikasi tulus para sesepuh inilah yang menjaga nyala Alee Tunjang agar tak padam digulung waktu.



